Powered by Blogger.

Latest Post

Showing posts with label Editorial. Show all posts
Showing posts with label Editorial. Show all posts

Melihat Sekilas Tapak Sekulerisme Turki

Written By Unknown on Wednesday, January 22, 2014 | 8:24 PM


Beberapa waktu lalu jubir Hizbut Tahrir Indonesia M Ismail Yusanto menyempatkan diri singgah di Istambul, Turki, ibukota Khilafah Islamiyah terakhir dari perjalanannya ke Tanah suci. Berikut catatan singkat yang ditulisnya bagi pembaca.
“No, not empire but khilafah”, sergah saya ketika, Zaenab (28), guide yang memandu kami, menjelaskan mengenai  peta wilayah kekuasaan Khilafah Utsmani yang demikian luas terutama semasa Khalifah Sulaiman “The Magnificent” dengan sebutan Ottoman Empire. Setelah berdebat sejenak, dengan wajah agak kurang senang akhirnya dia mengalah dengan mengatakan, “whatever you say”.
Sebenarnya Zaenab, yang sarjana sejarah spesialis Anatolia lulusan salah satu universitas terkemuka di Turki, tidak salah. Di peta yang terpampang di bagian depan Istana Topkapi, tempat para Khalifah Utsmani dulu tinggal, yang kini menjadi museum, memang tertulis ‘Ottoman Empire’. Begitu juga di semua brosur, dokumen atau buku-buku tertulis seperti itu.
Istana Topkapı adalah kediaman resmi para khalifah Utsmani selama lebih dari 400 tahun (1465-1856). Istana ini mulai dibangun pada tahun 1459 atas perintah Sultan Muhammad al Fatih. Kompleks istana terdiri atas empat lapangan utama dan banyak bangunan-bangunan kecil. Pada puncaknya, istana ini dihuni oleh sekitar 4.000 orang. Selain sebagai tempat tinggal kerajaan, istana digunakan untuk acara-acara kenegaraan. Sekarang menjadi museum. Di dalamnya tersimpan sejumlah barang penting seperti mangkuk yang dulu digunakan oleh Nabi, jilbab Fatimah, pedang Ali dan lainnya.
Tentu bukan tanpa sengaja pemerintah di sana mengganti istilah khilafah dengan empire. Ini adalah bagian dari usaha keras pemerintahan Turki pasca kekhilafahan diruntuhkan oleh Kemal Pasha untuk memaksakan sekulerisme dan menghapus sama sekali semua yang terkait dengan Islam dan kekhilafahan. Selain melarang jilbab, penggunaan simbol-simbol Islam, pengajaran Islam, Kemal juga melarang adzan dalam bahasa Arab. Adzan harus dikumandangkan dalam bahasa Turki. Bukan hanya itu, ternyata semua kosakata yang terkait dengan kekhilafahan juga dibuang. Buktinya ya tadi, istilah ‘khilafah’ diganti dengan ‘empire’ yang tidak lain bermakna kekaisaran. Menyebut khilafah dengan impire tentu tidak tepat karena khilafah bukanlah kekaisaran. Karena itulah, saya memprotes Zaenab. Tapi ternyata Zaenab, dan saya banyak lagi dari rakyat Turki, hanyalah korban saja dari sekulerisme yang demikian panjang menyelimuti negeri yang pernah menjadi pusat daulah Khilafah lebih dari 500 tahun.
++++
Pengaruh sekulerisme bukan hanya pada hilangnya istilah-istilah penting seperti khilafah, tapi juga pada persepsi tentang Islam, syariah dan keagungan khilafah serta perjuangannya.
Pagi hari di penghujung bulan Desember 2013, menjelang keberangkatan menuju sejumlah obyek, saya sempat berbebat kecil dengan calon guide kami, Ozgur Yigit (33), seorang sarjana sastra Inggris yang sudah mendapat sertifikat sebagai guide profesional setelah menempuh pelatihan khusus selama 1,5 tahun. Ozgur (dia sendiri lebih senang dipanggil Oscar) bersikeras menyarankan kita untuk tidak usah mengunjungi Rumeli Hiseri, sebuah benteng peninggalan Muhammad al Fatih. Katanya, ‘saya sarankan kalian tidak usah ke sana, tidak ada apa-apa di sana, hanya sebuah benteng. Habis-habisin waktu saja. Kita bisa lihat itu dari laut saat nanti kita naik kapal dalam program Boshporus Cruising’. Saya bilang, ‘Tidak’, memotong omongan dia yang terus nyerocos menyarankan untuk tidak ke sana, ‘You know”, kata saya, “kita semua ke sini itu untuk melihat tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah. Jadi kita harus ke sana”. Tentu saja akhirnya dia mengalah, mengikuti kemauan kami.
Rumeli Hiseri adalah benteng yang dibangun oleh Muhammad al Fatih beberapa bulan menjelang penyerangan ke Konstantinopel. Benteng ini terletak di tepi Selat Bosphorus di sisi Eropa, tepat berhadapan dengan Anadolu Hiseri, benteng yang sudah lebih dulu dibangun oleh Sultan Murad, bapaknya Muhammad al Fatih, di sisi Asia.
Dalam kajian Muhammad al Fatih dan para sekondannya, untuk melumpuhkan Konstantinopel harus ada strategi guna memutus jalur logistik dari daerah koloni Konstantinopel  di wilayah sekitar Laut Hitam. Caranya dengan memotong Selat Bosphorus sebagai satu-satunya jalur menuju Konstantinopel dari wilayah itu. Dan dilihat oleh al Fatih, ternyata daerah di hadapan Benteng Anadolu itulah titik dari Selat Bosphorus yang paling sempit. Lebarnya sekitar 660 meter. Akhirnya diputuslah untuk membangun benteng di daerah itu. Dalam waktu singkat, pada bulan Desember 1452, sebelum April 1453 dilakukan penyerangan, benteng itu sudah siap.
Benar, ketika melewati wilayah yang diapit oleh dua beteng itu, kapal-kapal musuh memang dengan mudah masuk jangkauan tembakan meriam yang diletakkan sengaja hampir sejajar air laut guna menyasar lambung kapal. Strategi ini terbukti ampuh. Sekian banyak kapal lawan berhasil ditenggelamkan, dan lainnya melarikan diri. Tak ada lagi kapal musuh yang berani lewat. Jalur logistik ke Konstantinopel putus! Jadi, jelas sekali Rumeli Hiseri sangat dahsyat secara historis.
Ketika kami tiba di lokasi, terbentanglah di hadapan sebuah bangunan kuno berwarna coklat tua keputihan. Inilah Benteng Rumeli (orang Turki menyebut Rumeli Hiseri). Tingginya berkisar 22 – 28 meter. Tinggi 3 menara dengan tiga pembantu utama al Fatih mencapai 70 meter. Ketebalan dinding antara 4  hingga 7 meter.  Menurut catatan sejarah, benteng yang luar biasa ini hanya dibangun dalam waktu 4 bulan saja. Kebayang oleh kami bagaimana semangatnya sekitar 4.000 pekerja ketika itu membangun benteng yang menjadi pijakan awal strategi penaklukan Konstantinopel. Kini,   di dalamnya masih bisa dilihat sejumlah meriam yang dulu digunakan untuk menembak kapal-kapal musuh yang berlayar menyusuri Selat Boshporus menuju Konstantinopel.

benteng rumeli
meriam di benteng rumeli
Tak salah kami memasukkan tempat ini dalam prioritas kunjungan. Boleh disebut inilah tempat yang menjadi awal keberhasilan Muhammad al Fatih dalam menaklukkan Konstantinopel. Tapi mungkin karena memang sudah tipis spirit atau ghirah perjuangan umumnya anak-anak muda Turki, tak banyak juga penjelasan yang kami dapat dari guide. Dia malah menyilakan kami jalan sendiri. Dia sendiri menunggu di bawah, tidak mau menemani kami menyusuri detil benteng yang sangat bersejarah ini.
Bukan hanya  Oscar yang tak mewarisi ghirah perjuangan, guide kami hari berikutnya, Esra (25),  juga kurang lebih sama. Ketika menjelaskan detil isi istana Dolmabache, pengganti Istana Topkapi, ia sama sekali tidak menyinggung satu peristiwa penting dalam episode akhir Kekhilafahan Utsmani. Yakni ketika Kemal Pasha menghapus kekhilafahan dari Istana ini lah ketika itu Sultan Abdul Majid, khalifah terakhir, diusir. Padahal itulah peristiwa besar yang telah secara telak mengakhiri sistem kekhilafahan dan sekaligus kejayaan Islam berbilang abad lamanya. Dan bagi Turki, peristiwa ini juga menjadi titik balik. Dari yang semula sebagai pusat khilafah yang memimpin dunia Islam menjadi hanya sebuah negara sekuler, dan kini tengah mengemis untuk menjadi anggota Uni Eropa.

Istana Dolmabache



bagian dalam istana Dolmabache

Juga ketika kami meminta diantar ke Menara Galata di Bukit Galata, dia mengatakan itu cuma menara, tidak ada apa-apanya. “Paling kita naik ke puncak, melihat pemandangan kota Istanbul dari atas, foto-foto, that’s all…”, cetusnya. Padahal  bukit ini menyimpan sejarah amat heroik, ketika di tengah kebuntuan setelah lebih dari satu bulan mengepung benteng Konstantinopel tak kunjung berhasil, Muhammad al Fatih akhirnya menempuh cara yang sangat mengejutkan lawan: menarik 70 kapal dalam semalam melintas Bukit Galata menuju Teluk Tanduk Emas (The Golden Horne) agar bisa menyerang benteng dari arah belakang.
 
Sejarah membuktikan, langkah hebat Muhammad al Fatih inilah yang kemudian menjadi faktor penentu kemenangan pasukan Islam menaklukkan Konstantinopel. Memang sekarang Bukit Galata sudah dipadati oleh pemukiman, termasuk pemukiman orang-orang Yahudi yang memang dahulu sengaja ditempatkan oleh khalifah di daerah ini sebagai bentuk perlindungan setelah mereka melarikan diri dari inkuisisi paska Spayol dikuasi kaum Katolik. Jalur pendakian kapal juga sudah tidak terlihat lagi. Tapi dari puncak Menara Galata (tinggi 66 meter, diameter 16 meter),  rekonstruksi pergerakan pasukan Muhammad al Fatih bisa dilakukan, dan getar heroik perjuangan 600 tahun lalu itu masih bisa dirasakan.

++++
Pengaruh sekulerisme tampaknya demikian menghunjam dalam ke tubuh orang-orang Turki. Secara sosial, mereka lebih mencitrakan diri sebagai bagian Eropa dari pada Asia. Memang secara fisik, orang Turki kebanyakan mirip orang bule. Perempuannya berkulit putih, tinggi dan berambut pirang. Tapi tak banyak dari mereka yang menutup aurat. Perempuan berkerudung hanya satu dua. Laki perempuan bergaul amat bebas. Dan, ini yang ajaib, meski Muslim umumnya mereka tidak menjalankan shalat. Termasuk tiga guide yang menemani kami, semuanya tidak shalat. Padahal mereka Muslim, dan dengan fasih menjelaskan keistimewaan masjid-masjid bersejarah yang kami kunjungi seperti Masjid Muhammad al Fatih, Masjid Sulaimaniye dan Masjid Abu Ayyub al Anshari. Ketika kami masuk untuk shalat, mereka tetap tinggal di luar. Ketika ditegur, Oscar malah menjawab dengan nada agak sedikit marah.
Masjid Abu Ayyub al Anshari adalah masjid yang dibangun di dekat makam Abu Ayyub al Anshari, sahabat Nabi yang rumahnya dulu dihampiri pertama kali oleh Rasulullah saat hijrah ke Madinah. Di masa Khalifah Muawiyah, pada sekitar tahun 52 H, ternyata usaha untuk menaklukkan Konstantinopel sudah dilakukan. Abu Ayyub al Anshari ikut terlibat langsung dalam usaha itu. Dia meninggal dalam jihad. Dan sebelum meninggal, ia berwasiat agar jasadnya dikuburkan di daerah dekat musuh. Berdasar wasiat ini, oleh shahabat yang lain jenasah itu lantas “diselundupkan” ke wilayah Konstantinopel. Setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel, Muhammad al Fatih memerintah untuk mencari makam shahabat Abu Ayyub al Anshari. Ditemukan di tempat yang sekarang ini di bangun masjid cukup besar. Banyak orang berziarah ke sana.
Sementara Masjid Muhammad al Fatih, lebih dikenal dengan sebutan Masjid Sultanahmed, adalah masjid yang dibangun pertama kali oleh Muhammad al Fatih setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel. Lokasinya tidak jauh dari Aya Sophia, gereja terbesar di masa Konstantin yang kemudian oleh al Fatih diubah menjadi masjid. Ia membangun masjid Muhammad al Fatih untuk menandingi kemegahan Aya Sophia. Masjid ini memang sangat megah dan besar. Empat tiang utamanya saja masing-masing berdiameter 5 meter. Interiornya didominasi oleh keramik iznik kualitas terbaik yang didominasi warga biru dengan ornamen yang sangat indah. Karena itu, masjid ini juga dikenal dengan sebutan The Blue Mosque.
 
Masjid Sulaimaniye dibangun oleh Khalifah Sulaiman al Qanuni. Di masanya kekhilafahan Ustmani mencapai puncak kejayaannya. Daerah kekuasaannya meluas hingga Rumania, Hongaria, bahkan Austria. Ia membangun masjid yang juga sangat megah. Tidak jauh dari lokasi Masjid Muhammad al Fatih dan bersebelahan dengan Universitas Istanbul, salah satu universitas terbesar di Turki. Kubah tunggalnya seberat 1000 ton menjulang tinggi disangga oleh 4 tiang utama. Senada dengan Masjid al Fatih, interiornya juga didominasi oleh rangkaian keramik iznik yang sangat indah. Meski sudah berumur lebih dari 500 tahun, tapi masjid ini tampak masih kokoh.
++++
Kepada Esra yang  tetap berdiri di luar masjid menunggui kami shalat di Masjid Sulaimaniye, saya tanya, “kenapa nggak ikut shalat?”. Dengan enteng dia jawab, “I am working”. Lalu saya tanya apakah memang begitu umumnya orang Turki, Muslim tapi tidak shalat? Dia jawab, “Iya”. Dia lalu menjelaskan lebih jauh. Baru-baru ini ada survei yang menanyakan orientasi politik keagamaan orang Turki, apakah islamis atau liberalis. Hasilnya, sekitar 60 persen liberalis dan 40 persen sisanya islamis. Tapi di antara yang islamis tadi ketika ditanya apakah melakukan shalat, ternyata yang menjawab iya hanya 60 persen.
Terkait kehidupan sosial, khususnya soal pergaulan muda-mudi, saya tanya lagi, “Apakah memang umumnya anak muda Turki begitu, bergaul bebas?”. Dia jawab, “Iya, utamanya di kawasan pantai Istanbul”. “Apakah mereka biasa melakukan seks sebelum menikah?”. Dia jawab lagi, “Iya”. “Hamil di luar nikah?”. “Oh, no..”
“Kalau gitu, lalu apa arti Islam buat mereka?” Dia jawab, “Sebagai social identity. Bahwa kami adalah orang Islam”. “Lalu kenapa, mayoritas orang di sini tetap Islam meski sekian lama mengalami sekulerisasi?”. Dia jawab, “Itu karena social influenz. Maksudnya, karena orang sekitarlah kami tetap Muslim, dan tidak mungkin kami bukan muslim”.
“O, gitu” gumam saya. Karena itu bisa dimengerti kenapa meski secara statistik 97 persen, malah ada yang bilang 99 persen penduduk Turki adalah Muslim, tapi ya itu, istilah kami hanya Islam – KTP. Shalat kagak, nutup aurat emoh. Masjid-masjid besar tadi memang ramai ketika waktu shalat, tapi oleh wisatawan. Sementara penduduk setempat anteng saja  meski adzan berkumandang keras. []

Dunia Islam 2013 : Masih Dijajah, Khilafah Solusinya

Written By Unknown on Tuesday, December 31, 2013 | 9:42 AM


 

Sama dengan tahun-tahun sebelumnya sepanjang tahun 2013 ini umat Islam dunia masih diliputi berbagai persoalan. Intinya, dunia Islam masih dijajah. Baik penjajahan itu secara langsung dengan pendudukan militer, ataupun penjajahan dalam bentuk lain secara ideologi, ekonomi, politik atau sosial budu secara ekonomi, meskipun negeri-negeri Islam memiliki sumber daya alam yang melimpah, rakyatnya miskin. Mereka dieksploitasi perusahaan-perusahaan kapitalis asing.
Irak, Afghanistan, Palestina,masih diduduki oleh tentara-tentara penjajah. Atas nama perang melawan terorisme, membantu menegakkan demokrasi,  penjajah membunuh kaum Muslimin,  menciptakan konflik dengan cara adu domba dengan berbagai isu etnis, sekte, atau paham keagamaan. Hasilnya lebih dari 1 juta umat Islam terbunuh di Irak. Tidak terhitung berapa yang terbunuh di Palestina dan Afghanistan.
Amerika Serikat dengan menggunakan pesawat tanpa awak (drone), secara leluasa melakukan pembantaian massal. Ribuan umat Islam terbunuh di Afghanistan, Pakistan, dan Yaman. Mesin pembunuh ini bisa leluasa karena dibiarkan oleh penguasa-penguasa negeri Islam yang menjadi boneka-boneka Barat.  Mereka pun melakukan rutinitas memuakkan pasca melakukan pembantaian. Amerika pura-pura minta maaf, pemimpin boneka pura-pura mengecam. Namun pembantaian massal terus berlanjut.
Penguasa-penguasa boneka negeri Islam, alih-alih melindungi rakyat dan kekayaan alam negeri Islam, mereka malah menjadi pembunuh bagi rakyatnya sendiri  dan memberikan jalan negara-negara penjajah untuk merampok kekayaan negeri Islam.
Rezim militer Mesir di bawah pimpinan Jenderal boneka as-Sisi, membunuh ratusan umat Islam yang mendukung Presiden Mursi. Ribuan dipenjara, ditahan, dan disiksa secara kejam. Media massa dikontrol penuh, beberapa di antaranya dibredel. Semua ini berjalan dengan dukungan Amerika dan negara-negara Barat.
Kudeta militer di Mesir , membuktikan kembali kepada kita, jalan demokrasi adalah penuh tipuan. Meskipun Mursi menang secara demokratis, namun tetap saja Barat tidak percaya 100 % dan lebih mendukung militer sekuler yang setia menjadi pelayan mereka.
Di Suriah, rezim Bashar Assad yang buas , melakukan pembantaian massal terhadap rakyatnya sendiri. Ratusan ribu dibunuh secara keji dengan menjatuhkan bom-bom berdaya ledak tinggi dan senjata kimia mematikan. Mayoritas yang menjadi korban adalah anak-anak dan para wanita. Diperkirakan lebih dari  1 juta rakyat Suriah mengungsi dalam kondisi yang menyedihkan.
Apa yang terjadi di Suriah menunjukkan bagaimana Barat melakukan konspirasi global untuk menghentikan perjuangan umat Islam di sana menegakkan khilafah Islam. Untuk itu mereka tetap mempertahankan rezim buas Assad karena belum mendapat pengganti yang tepat. Negara-negara regional Timur Tengah seperti Saudi, Turki, Mesir, Irak dan Iran kemudian berbagi peran untuk mengokohkan kebijakan Amerika.
Konflik berdarah berlangsung Afrika seperti Somalia, Nigeria, Afrika tengah, atau Sudan dengan korban raturan ribu orang.  Semua ini tidak bisa dilepaskan dari campur tangan Amerika dan sekutu-sekutu Baratnya yang rakus untuk menguasai kekayaan alam negeri-negeri Islam.
Di negeri-negeri yang umat Islam merupakan minoritas, nasibnya menyedihkan.  Seperti di Xianjiang Cina, Myanmar, Filipina, Thailand, atau India . Perlakuan diskriminatif  terus terjadi, pembunuhan pun terus berlangsung. Padahal umat Islam hidup di negeri mereka sendiri, di tanah miliknya.
Hal yang sama dialami umat Islam di negara-negara Barat . Umat Islam dilarang menggunakan hijab, dipersulit membangun masjid, masjid dilempari, dituduh teroris dan ekstrimis. Semua ini terjadi sering dengan menguatnya islamophobia yang didukung oleh politisi , cendekiawan, dan ditumbuhsuburkan dengan kebijakan negara-negara Barat yang anti Islam.
Melihat kondisi umat Islam yang memilukan ini,  apa yang diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir tanpa kenal lelah menjadi sangat penting dan wajib kita perhatikan. Hizbut Tahrir telah merumuskan akar masalah dari seluruh problem dunia Islam yaitu:  sistem kufur yang diterapkan di negeri-negeri Islam dan keberadaan penguasa-penguasa boneka.  Hizbut Tahrir juga telah merumuskan solusinya dengan jelas dan gamblang: melanjutkan kehidupan Islam dengan menerapkan syariah Islam secara total di bawah negara khilafah.
Hizbut Tahrir pun telah merumuskan jalan perjuangan sesuai manhaj Rasulullah SAW . Pertama, dengan cara mencetak kader-kader dakwah yang bersyakhsiyah islamiyah sebagai ujung tombak perjuangan. Kedua, membangun kesadaran umat yang akan melahirkan opini umum sehingga umat bergerak menuntut perubahan dengan dasar Islam dan tuntutan yang jelas yaitu tegaknya khilafah.
Ketiga, dengan melakukan thalabun nushrah, mendatangi elite-elite strategis yang memiliki kekuasaan riil seperti militer. Berdakwah kepada mereka, mengajak mereka kembali berpegang teguh pada Islam, sehingga mereka memberikan dukungan penuh yang didasarkan kepada Islam untuk tegaknya khilafah.
Inilah jalan yang jelas , tegas, benar, yang akan mengantarkan umat Islam ke jalan kemenangan. Bukan dengan jalan demokrasi yang terbukti gagal, bukan pula dengan cara people power, ataupun kudeta militer yang tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW.
Atas izin dan pertolongan Allah SWT,  perjuangan ini pasti akan berhasil yang ditandai dengan munculnya kesadaran umum di tengah masyarakat akan Islam, kewajiban syariah dan khilafah,  ditambah dengan dukungan dari ahlul quwwah  (yang memiliki kekuasaan riil). Sungguh, tidak ada yang bisa menghalangi tegaknya kembali khilafah.
Pertanyaan penting yang tersisa adalah di mana peran kita? Apakah kita diam atau menjadi penghalang? Tentu kita tidak memilih jalan ini,  karena ini menimbulkan murka Allah SWT. Maka, pilihan benar kita adalah ikut berjuang bersama dengan sungguh-sungguh dan kerja keras sehingga mengantarkan kita kemenangan di dunia dan surga-Nya Allah SWT di akhirat kelak. Allahu Akbar! [] Farid Wadjdi

 
Support : Daulah Khilafah | Visi Muslim | Hizbut-tahrir
Copyright © 2014. visi muslim - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Ade Supriatna
Proudly powered by Blogger